Suparno Lepas Landas Bersama ‘Ayam Lepaas’

http://aceh.tribunnews.com/2012/06/01/suparno-lepas-landas-bersama-ayam-lepaas

010612foto.6_.jpg

Suparno

Lelaki yang tumbuh besar Simpang Keuramat, Aceh Utara, ini, berkisah, dirinya pernah harus dipaksa lepas tanpa arah ketika ia ditinggalkan oleh pihak yang selama ini bekerja sama dengannya

DUA jam duduk bersama Suparno, seperti baru beberapa menit saja. Selalu ada ide-ide gila dan inspirasi berharga yang dilontarkannya untuk bisa memulai sebuah usaha. Pemilik bisnis resto dengan menu utama ayam ini, selalu semangat jika diajak berbagi cerita terkait sukses mengelola bisnisnya saat ini, yakni ‘Ayam Lepaas’.

Kamis (31/5) kemarin, Suparno berbagi cerita tentang bisnisnya yang saat ini sudah lepas ke sejumlah kota di luar Aceh, terutama di Bekasi dan Jakarta. Membawa brand ayam asli Aceh, saat ini Suparno sudah mendirikan 44 gerai di Jabodetabek dan 11 gerai Ayam Lepaas di Aceh.

Gerai pertama Ayam Lepaas didirikan Suparno awal November 2009 silam. Gerai pertama itu dibuka di kawasan Lampriek, Banda Aceh. Tepatnya di depan SMA 3. Dari sinilah, awal mula Suparno lepas landas bersama Ayam Lepaas. “Kebetulan saya suka masak,” katanya saat berbincang di gerai Ayam Lepas, Lamnyong, Banda Aceh.

Ia juga mengaku, sebenarnya buka usaha Ayam Lepaas itu tidak pernah terpikirkan, ia bahkan mengaku Ayam Lepaas yang ditekuninya adalah sebuah ‘kecelakaan’ di tahun 2009 silam. “Ini sebenarnya kecelakaan saja saya buka Ayam Lepaas, gak kepikir sebelumnya,” ujar Suparno sambil tertawa mengenang masa awal mula mendirikan usaha tersebut.

Melihat Suparno, tentu jangan melihatnya hari ini. Bisnis restoran dengan menu utama ayam ini sudah dilakukannya sejak tahun 2007. Saat itu dia memakai merek franchise yang juga punya menu khas ayam. Tapi ia gagal di bisnisnya ketika itu.

Lelaki yang tumbuh besar Simpang Keuramat, Aceh Utara ini berkisah, dirinya pernah harus dipaksa lepas, tanpa arah ketika ia ditinggalkan oleh pihak yang saat itu bekerja sama dengannya. Padahal, menurut Suparno, saat itu, resto yang dikelolanya sudah mulai ramai dikunjungi pembeli. Akhirnya Ia pun harus berjualan ayam tanpa merek, jualannya benar-benar lepas. Kondisi seperti itu berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.”Saya sempat bingung juga mau pakai nama apa ayam olahan saya,” katanya, mengenang saat usahanya hampir colaps.

Sambil terus mencari nama yang pas, ia sebut satu persatu nama saat itu, termasuk nama ‘ayam pedas’ dan nama lainnya yang tidak lagi diingatnya. Tetapi nama ‘ayam pedas’ tidak berjodoh dengannya.

Hingga suatu ketika, dalam sebuah perjalan dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, Suparno menemukan nama yang hari ini telah menjadi nama untuk usahanya itu. Ia mengatakan, nama itu didapat dari kebiasaannya mengolah sambal dengan cara ulek atau diulek. “Saya ambil ‘le’ nya dari kata ‘ulek’ dan ‘pas’ dari kata pedas, jadilah ‘Ayam Lepaas’,” katanya sambil tersenyum.

Di gerai Ayam Lepaas Suparno juga menyuguhkan berbagai menu, mulai dari ayam goreng, bebek, lele, burung puyuh, yang disajikan bersama sayur seperti timun, kol serta selada, dan juga dilengkapi dengan sambel. Ada dua sambal andalan Suparno, sambal ‘Ayam Lepaas’ dan ‘Ayam Lemas’.

“Jika ingin pedas serasa menyengat sampai ke otak, pilih saja Ayam Lepaas,” katanya sambil menunjuk sambal pedas di depannya. Sementara ‘sambal lemas’ rasanya manis sesuai singkatannya yaitu lezat dan manis.

Suparno juga membuka peluang kerja sama bisnis bagi siapa saja yang ingin berbisnis kuliner dengannya. Ia tidak menerapksan sistem waralaba melainkan usaha kerjasama atau kemitraan. “Kalau ada modal atau ada lahan silakan. Tak harus berhenti jadi wartawan. Biar bisnisnya saya yang kembangkan,” katanya sambil tertawa.

Suparno juga punya mimpi, ‘Ayam Lepaas’ nya bisa sejajar go internasional seperti waralaba dengan menu ayam yang saat ini banyak masuk di Indonesia juga di Aceh.

Gerakan Wirausaha
Selain tekun mengelola ‘Ayam Lepaas’, Suparno juga getol mengajak orang berwirausaha. Bersama rekan-rekannya, ia mendeklarasikan berdirinya Gerakan Wirausaha Aceh (Gwach) sebagai langkah awal dimulainya kebangkitan sektor perekonomian di Aceh.

“Ketimbang mencari-cari peluang jadi PNS, mari kita berlomba-lomba jadi pengusaha yang peluangnya sangat besar, tanpa batas,” katanya.Di lembaga yang dideklarasikannya pada Senin 28 Juni 2011 itu, Suparno bertekad melahirkan 10 ribu pengusaha baru di Aceh.(arif ramdan)

 

Editor : bakri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s