Ayam Lepaas dari Aceh ke Seantero Nusantara

http://atjehpost.com/read/2012/05/27/10168/7/7/Kepak-Bisnis-Ayam-Lepaas-dari-Aceh-ke-Seantero-Nusantara

Minggu, 27 Mei 2012 18:45 WIB
MUHAJIR ABDUL AZIZ | Foto : TAUFAN MUSTAFA

SIAPA sangka produk Ayam Lepaas-dengan dua huruf ‘a’- yang sekarang terkenal ke seluruh Indonesia berasal dari depan SMA Negeri 3 Banda Aceh. Tapi begitulah faktanya, Ayam Lepaas seakan keluar dari “kandangnya” di Banda Aceh untuk menyuguhkan cita rasa ke seluruh Indonesia.

Sabtu, 26 Mei 2012, The Atjeh Post bertemu Suparno, pemilik dan perintis usaha kuliner Ayam Lepaas itu. Di sebuah warung kopi di sudut Banda Aceh, kami berbicang tentang Ayam Lepaas, tentang Suparno yang jatuh bangun mendirikan usaha kuliner tersebut, hingga usaha itu terkenal.

Suparno lahir 36 tahun lalu di Lubuk Pakam, Deli Serdang Sumater Utara. Ia besar di Lhokseumawe dan juga alumni Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Unsyiah.

Suparno mulai mengembangkan usaha kuliner pada 2007 di Lhokseumawe. Waktu itu dia membeli sebuah merek franchise yang mirip dengan Ayam Lepaas.

“Usaha itu gagal, tahun 2008 saya buka di Banda Aceh, juga usaha kuliner, gagal lagi. Tahun 2009 tepatnya bulan November baru saya buka Ayam Lepaas di depan SMA 3 Banda Aceh,” ujarnya.

Suparno menceritakan, Ayam Lepaas yang ada sekarang pada awalnya tidak punya nama tetap, selama tiga bulan berganti-ganti.

“Pernah waktu itu namanya entah apa-apa, tapi setelah berdikusi panjang dengan istri, dapatlah nama Ayam Lepaas yang merupakan akronim dari ayam sambel ulek dan pedas,” ujar Suparno.

Pertama kali membuka Ayam Lepaas, Suparno berprinsip kalau kulinernya harus berbeda dengan ayam penyet atau ayam tepung goreng.

Hingga sekarang, dalam umurnya yang belum sampai tiga tahun, Ayam Lepaas Suparno telah memiliki 43 outlet di seluruh Indonesia, dan menampung ratusan pekerja.

Yang paling banyak adalah di wilayah Jabodetabek dengan 23 outlet. Sedangkan di Aceh sendiri berjumlah 11 outlet. Selebihnya tersebar di kota-kota lain di Indonesia. Dan outlet yang paling terakhir dibangun adalah di kota Jambi pada awal Mei 2012.

“Kalau omset yang paling besar itu ada di Jabodetabek, sedangkan bangunan yang paling besar itu ada di Lamnyong,” ujar Suparno.

Usaha kuliner Ayam Lepaas, kata dia, bukanlah franchise atau waralaba, tapi usaha kerjasama dan bagi hasil. Usaha kemitraan lebih tepatnya.

“Mitra ada dua. Ada yang menyediakan modal, ada yang menyediakan lahan. Ada juga mitra yang menyediakan keduanya,” katanya.

Besar hingga seperti sekarang, Suparno berangkat dari nol kala memulai bisnis itu. Pada 2007 ia memiliki modal Rp50 juta. Selebihnya, dari pengembangan itu dia mendapatkan modal dari bank dan teman-temannya.

“Dalam dunia bisnis, jatuh bangun itu biasa, saya sering jatuh bangun. 95 persen orang-orang sukses berawal dari kegagalan, saya juga pernah ditipu oleh mitra dulu, tapi saya tetap bangun lagi,” katanya mengenang saat-saat awal membangun Ayam Lepaas.

“Ini bukan mengambil resiko, tapi mengoptimalkan peluang. Peluangnya adalah banyak orang yang ingin bermitra, ya kita ambil, kita jalankan usaha sama-sama,” ujarnya.

Baginya, kepercayaan dari orang-orang adalah segalanya. “Dalam dunia bisnis, kepercayaan adalah mata uang yang tak terhingga nilainya, kepercayaan adalah kekayaan yang tak terhingga,” ujarnya Suparno.

Dalam mengelola manajemen usaha Ayam Lepaas yang besar tersebut, Suparno memakai konsep manajemen berlapis. Bahkan semuanya ada lima lapis manajemen, dari unit terkecil sampai pusat, dan pusatnya itu ada di Banda Aceh.

Manajemen Ayam Lepaas juga menerapkan sistem Information Technology atau IT. Kantor pusat di Banda Aceh selalu mengawasi kegiatan outlet di seluruh Indonesia dengan IT.

“Ini untuk memastikan tingkat kejujuran, dalam dunia bisnis kejujuan sangat penting. Jujur juga harus punya parameter, bukan bicara saja,” katanya.

Rupanya, Suparno juga membangun usahanya dengan pihak TNI. Dia menjelaskan bahwa outlet Ayam Lepaas yang berada dalam komplek Kodam di Simpang Lima Banda Aceh bermitra dengan Kodam Iskandar Muda.

“Awalnya kita ditawari oleh pihak Kodam, ya karena kita pikir tempatnya strategis langsung kita ambil,” jelasnya.

Selain di Simpang Lima, outlet Ayam Lepaas yang bekerja sama dengan TNI ada di Simpang Tiga yang bekerjasama dengan Pusat Koperasi Angkatan Darat (Puskopad).

“Dalam berhubungan dengan TNI kita selalu ikut Undang-Undang. Kita merujuk kepada Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) tahun 2007 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” ujar Suparno.

Tentang omset yang dihasilkan, Suparno tak mau menjelaskan secara rinci. Sambil tersenyum dia mengatakan bahwa saat ini usaha Ayam Lepaas sudah bekerjasama dengan 200 orang mitra dan sudah bisa menampung 1000 lebih karyawan serta sekitar 250 karyawan berada di Aceh.

“Omsetnya pasti adalah, yang jelas lumayan bagus, kalau tidak, ya tidak mungkin orang mau berinvestasi dan bermitra,” katanya sambil tersenyum.

Saat ini, walau sudah berhasil membagun 43 outlet yang tersebar di Indonesia, Suparno masih berusaha terus mengembangkan usahanya. Yang paling dibutuhkannya sekarang adalah lahan untuk tempat usaha, kalau modal uang sudah banyak mitra yang ingin menampung.

Bagi Suparno, tantangan paling utama yang akan dihadapi oleh Ayam Lepaas adalah menjaga kualitas rasa, pelayanan dan kepuasan pelanggan. Itu yang paling utama. [

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s